[Test Ride] SOIB Racer 400, Penantang Serius Kawasaki Estrella

[Test Ride] SOIB Racer 400, Penantang Serius Kawasaki Estrella

Bro n Sist…

Menyambut baik ajakan dari om Jack untuk mengikuti acara Test Ride SOIB Racer 400, minggu pagi kemarin saya pun menjajal motor retro 400cc ini di kawasan Hambalang Bogor. Bagi Bro n Sist yang belum tau, SOIB adalah merek yang didaftarkan di Indonesia oleh Hoby Motor (Pondok Indah) untuk beberapa tipe sepeda motor yang unik dan anti mainstream. Salah satunya adalah SOIB Racer 400 ini.

SOIB Motor diproduksi di China, dan telah dikenal luas di Eropa dengan brand “MASH Motorcycle”. Entah kenapa Hoby motor tidak menggunakan brand MASH… 😀

Well, setelah berkumpul di depan sirkuit Sentul, kami pun berangkat menuju lokasi test ride di perbukitan Hambalang. Seperti apa impresi motor 400 cc single silinder ini? silahkan disimak…

 

Design & Finishing

Sebelum menjajal motor ini, saya mulai memandanginya. Mata saya menelusuri setiap lekuk dan detail motor ini dari ujung ke ujung. Desain motor ini mengingatkan saya pada Honda CB 400SS. Mulai dari desain tangki, lampu depan, bahkan mesin satu silinder SOIB Racer 400 dengan dua knalpotnya ternyata memiliki kofigurasi yang sama persis dengan Honda CB 400SS. Motor yang terlihat klasik ini memang tidak begitu mencolok, namun semakin lama saya pandangi, semakin terlihat menarik dan “ngangeni”. Makin lama makin enak dilihat.

[Test Ride] SOIB Racer 400, Penantang Serius Kawasaki Estrella

Basis mesin Honda CB 400SS

Sebagai motor yang dipasarkan di Eropa layaknya Regal Raptor, motor ini memiliki kualitas finishing yang sangat baik. Sama sekali tidak mencerminkan motor buatan China. Mulai dari pengelasan, cat dan krom terlahat sangat rapih. Soal finishing, motor ini jauh diatas motor India. [Test Ride] SOIB Racer 400, Penantang Serius Kawasaki Estrella

 

Ergonomy

[Test Ride] SOIB Racer 400, Penantang Serius Kawasaki Estrella

Riding position tegak dan relaks

Tiba saatnya saya menunggangi motor ini. Layaknya motor klasik, duduk diatas motor ini terasa sangat relaks dan nyaman. Posisi jok yang rendah, membuat kedua kaki saya menapak dengan sempurna. Jangkauan tangan ke stang yang tidak begitu jauh membuat badan tidak perlu membungkuk. Menunggangi motor ini terasa semakin nyaman dengan jok yang empuk serta posisi foot step yang sedikit maju ke depan layaknya motor-motor jaman dulu. Pokoknya, buat harian, jarak dekat maupun jarak jauh, dijamin tidak akan cepat lelah.

 

Performa

Tidak berlama-lama menikmati sensasi riding position motor ini, saya pun mulai menjalankannya. Kunci kontak “ON”, engine start, brumm… suara dua knalpot motor 400cc satu silinder ini terdengar begitu padat. Mesin motor ini terasa halus dan tidak menimbulkan getaran yang berlebihan layaknya TVS Apache, padahal dengan kapasitas lebih dari dua kali lipat!.

Masuk gigi satu, begitu lepas kopling, buka gas sedikit, motor langsung menhentak. Gas ditarik sedikit lagi, badan seperti terdorong ke belakang. Masuk gigi 2, torsi motor ini masih bikin kaget. Baru sekitar 6.000 rpm, saya langsung pindah ke gigi 3 karena tidak tahan dengan torsinya, motor seperti melonjak-lonjak.

Dengan konfigurasi mesin satu silinder 400cc, performa motor ini sangat asyik untuk kondisi stop n go. Cukup buka gas sedikit, motor sudah berakselerasi dengaan cepat.

 

Handling

Dengan bobot motor yang hanya 150 Kg, ditambah lagi wheel base yang tidak terlalu panjang, motor ini sangat mudah untuk dikendarai dan cukup lincah untuk diajak bermanufer. Membelah kemacetan dan menyusuri jalan berliku bukan masalah bagi motor ini. Sebaliknya, untuk membawa motor ini melaju di atas 120 Km/jam, sebaiknya Bro n Sist berfikir dua kali. Di kecepatan tinggi, bagi saya motor ini kurang stabil.

 

Suspensi

Motor ini menggunakan suspensi depan telescopic dan suspensi belakang double shock yang bisa distel kekerasannya. Unit test ride yang saya coba kemarin, memiliki suspensi belakang yang cukup keras. Sedangkan suspensi depan cukup. Overall, suspensi motor ini cukup nyaman untuk penggunaan harian. Namun untuk kondisi jalan semi off road, suspensi belakang perlu distel lagi.

 

Traksi dan Pengereman

Dengan profil ban dual purpose yang terpasang, motor ini sepertinya menyasar pengguna untuk harian dan semi offroad. Namun bagi saya pribadi pemilihan profil ban ini terasa kurang tepat. Dengan karakter motor seperti yang sudah saya uraikan diatas, motor akan lebih cocok untuk penggunaan harian di dalam kota. Masalahnya, profil ban dual purpose dengan compound yang keras, menjadikan traksi ban ke aspal sedikit berkurang.

Soal pengereman, cakram depan dan tromol belakang, sudah lebih dari cukup untuk membantu meredam laju motor ini. Baik rem depan maupun belakang cukup pakem.

 

Kesimpulan

Dengan banderol Rp. 65 jutaan, motor ini hadir sebagai penantang serius Kawasaki Estrella yang telah lebih dahulu mengaspai di Indonesia. Dengan harga yang relatif sama, Bro n Sist mendapatkan motor dengan kapasitas lebih besar, dengan performa yang lebih mumpuni.

Daya tarik motor ini terletak pada desainnya yang manis, performa mesin yang mengagumkan serta sensasi berkendara yang sangat berkesan. Tidak perlu touring jarak jauh, tidak perlu sirkuit, tidak perlu kebut-kebutan untuk menikmati sensasi motor ini, cukup buka gas sedikit, dan rasakan sensasi yang bikin ketagihan.

 

Silahkan dikomentari…

23 thoughts on “[Test Ride] SOIB Racer 400, Penantang Serius Kawasaki Estrella

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *